Selalu Melihat Dua Sisi di Setiap Permasalahan
Setiap orang pasti memiliki permasalahan yang berbeda-beda. Hal tersebut dapat muncul kapan saja dan dimana saja. Pemicunya juga beragam. Entah yang memulainya duluan diri kita sendiri atau mungkin orang lain. Namun, kadangkala dari setiap permasalahan yang ada, semua itu tergantung dari pandangan mana yang sedang kita ambil. Seringkali kita melihat suatu permasalahan hanya dengan satu sisi saja, tanpa melihat sisi lain yang sebenarnya juga ikut terluka secara tanpa kita sadari. Hal ini yang menyebabkan suatu permasalahan menjadi runyam sehingga terseret menjadi konflik yang tidak diinginkan. Lalu, bagaimana seharusnya agar permasalahan dapat teratasi di tengah rintangan yang ada?
Kebanyakan dari kita cenderung akan menyalahkan orang lain jika terlibat dalam permasalahan yang ada. Tidak jarang kita melibatkan emosi hingga timbulnya suatu pertengkaran dan caci maki. Namun sayangnya, kita kerap mengabaikan sisi lain dari permasalahan yang ada. Kita justru mengabaikan pandangan dan perasaan orang lain yang terlibat dalam permasalahan tersebut sehingga terkesan kitalah korbannya. Padahal, ya belum tentu juga. Inilah pentingnya selalu melihat dua sisi di setiap permasalahan. Permasalahan tidak akan selesai jika kita terus membawa-bawa sudut pandang dari cerita kita. Kita justru harus melihat sudut pandang dari cerita orang lain, agar mengetahui titik permasalahan dari kedua belah pihak sehingga dapat saling memahami satu sama lain. Apabila diantara kedua belah pihak sudah saling memahami, barulah kita dapat mencari solusi dari seluruh permasalahan yang ada tanpa harus saling adu mulut. Kita juga tidak akan saling menyalahkan karena setiap pribadi orang memiliki alasan masing-masing mengapa kita menjadi seperti itu terkait masalah yang menimpa diri kita. Jadi, daripada saling menyalahkan, alangkah lebih baiknya kita saling memahami agar tidak terjadi pertikaian.
Penulis dapat memberikan sebuah contoh terkait permasalahan yang harus dilihat dari kedua sisi. Perumpamaan si A yang tergabung dalam grup kerja kelompok untuk sebuah tugas. Di saat para anggota sudah mendapat bagian tugas masing-masing dan mulai jalan hingga pertengahan, si A memutuskan untuk keluar dari grup karena alasan pribadi yang memungkinkannya untuk tidak bisa terus-terusan berada di dalam grup kerja kelompok tersebut. Selama A menjadi anggota grup, ia merasa kurang nyaman dan terus diforsir untuk mengerjakan banyak hal. Ia juga merasakan banyak tekanan dari tugas yang ikut ia kerjakan. Mengetahui keputusan dari si A, anggota lainnya merasa marah dan kecewa. Mereka merasa si A yang ikut terlibat dalam tugas tersebut justru memilih untuk tidak ikut melanjutkan tugasnya dan pergi. Anggota lain merasa bahwa A tidak bertanggungjawab karena keputusannya itu, sampai akhirnya orang-orang yang mengetahui permasalahan tersebut cenderung menyalahkan si A karena ia tega meninggalkan anggota lain yang bekerja keras dalam menyusun tugas, sementara si A keluar begitu saja. Dari perumpamaan tersebut, orang-orang cenderung melihat permasalahan dari satu sisi saja tanpa melihat sisi yang lain pula. Mereka merasa bahwa A yang bersalah atas kejadian tersebut. Memang benar A mungkin terlihat arogan dan tidak bertanggungjawab, namun di sisi lain kita harus melihat pemicunya mengapa A menjadi seperti itu, yakni karena kinerja yang dilakukan grup tersebut kurang sesuai dengan kemampuan si A. Bisa saja A memang mudah lelah dan stres, hingga mengeluhkan hal tersebut sehingga ia memutuskan untuk keluar dari grup kerja kelompok, meskipun A juga memang salah karena ia memilih untuk pergi begitu saja dan meninggalkan banyak dampak bagi anggota lainnya. Dari sini terdapat pelajaran bahwa separah apapun permasalahan yang ada, kita harus selalu melihat dua sisi yang berbeda agar mengetahui masing-masing alasan dari sudut pandang keduanya.
Hal yang sama terjadi kepada para pelaku kriminal. Kita jangan terlalu menghakimi mereka karena perbuatan keji mereka, namun kita juga harus melihat dari sudut pandang mereka alasan mengapa para pelaku kriminal melakukan tindak kriminal. Bisa saja dari berbagai macam faktor, seperti; trauma masa lalu, ketimpangan sosial, perlakuan buruk dari orang-orang sekitar, kemiskinan, dll. Kita tidak membenarkan perbuatan mereka, namun disini kita harus lebih memahami perasaan mereka serta latar belakang pemicu dari perbuatan kriminal tersebut. Dengan melihat kedua sudut pandang, kita jadi lebih hati-hati dalam menilai tindakan orang lain dan lebih mengedepankan empati untuk memahami perasaan setiap individu yang ada.
Apa yang telah penulis sampaikan melalui artikel ini telah dipikirkan secara matang dan terinspirasi dari kehidupan orang-orang yang ada di dunia ini. Semoga kedepannya kita bisa terus menjadi pribadi yang lebih baik dan dapat menyelesaikan suatu masalah dengan benar, tanpa adanya permusuhan maupun percekcokan yang dapat terjadi.
Komentar
Posting Komentar