Kenapa Konten Bodoh Selalu Viral?
Di Indonesia seakan sudah menjadi hal biasa apabila terdapat hal-hal viral yang mengandung kebodohan. Di era teknologi yang semakin canggih ini, akses untuk menonton konten merupakan hal yang mudah untuk kita dapatkan, tidak seperti di zaman dahulu dimana kita harus ke warnet untuk bisa berselancar di internet sepuasnya. Sekarang, hampir semua orang sudah memiliki gadget sendiri, termasuk anak kecil sekalipun. Hal inilah yang membuat banyak orang berlomba-lomba untuk mencari keuntungan lewat internet, bahkan jika harus melakukan hal bodoh sekalipun.
Mencari keuntungan lewat internet sebenarnya sah-sah saja, terlebih lagi internet memiliki jaringan yang luas dan mampu menjangkau banyak orang seolah-olah mereka dekat. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh banyak orang untuk mencari uang dan kepopuleran. Biasanya, orang-orang akan memanfaatkan internet untuk membuat konten jualan, blogging, atau membuat video dan mengunggahnya di platform media sosial. Hal tersebut tentu membawa dampak positif bagi sang kreator maupun pengguna lainnya, karena sama-sama menguntungkan kedua belah pihak dengan adanya suatu konten yang dibuat. Namun, bagaimana kalau konten yang dibuat berisikan hal hal bodoh yang seharusnya tidak perlu disebarluaskan apalagi diviralkan? Tentu ini akan menjadi masalah besar yang tidak disadari oleh orang-orang, khususnya mayoritas orang Indonesia yang merupakan penggila konten viral yang mengandung kebodohan. Karenanya, publik turut mempopulerkan sekumpulan orang yang tidak berprestasi dengan memamerkan sensasi. Kenapa hal ini bisa terjadi?
Menurut apa yang penulis amati, hal ini terjadi karena banyaknya faktor, salah satunya kesenjangan sosial ekonomi. Seperti yang kita ketahui, tidak semua masyarakat Indonesia memiliki kondisi sosial dan ekonomi yang baik. Akibatnya, terjadi ketimpangan dan ketidakseimbangan dalam kehidupan. Hal ini tentunya mempengaruhi pendidikan orang-orang karena keterbatasan biaya. Banyak anak yang putus sekolah hingga tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal inilah yang menyebabkan mengapa kebanyakan orang memviralkan kebodohan, karena pada dasarnya mereka mengalami keterbatasan ekonomi dan tidak memiliki kemampuan yang mumpuni dari pendidikan mereka. Jadi bisa dikatakan mereka mencari cara yang instan untuk mendapatkan uang dan meraih kepopuleran dengan cara memamerkan kebodohan di media sosial. Dan hal yang seperti ini tentunya membuat miris dan tidak boleh-terus terusan kita biarkan. Bayangkan saja apabila generasi kita semakin bodoh, yang ada negara kita tidak maju-maju, dari segi perilaku, pendidikan, ekonomi, dan lain-lain. Beda cerita apabila masyarakat memiliki kondisi ekonomi yang baik dan kehidupan sosial yang baik pula, kebanyakan dari mereka tidak akan menyia-nyiakan hidupnya untuk mencari sensasi dengan cara memviralkan sesuatu yang tidak seharusnya diviralkan. Justru, orang yang berpendidikan baik akan mencari pekerjaan yang positif di bidang yang ia kuasai.
Sangat beda sekali jika penulis harus bandingkan dengan kehidupan masa SD penulis. Masa itu dimana media sosial belum berkembang pesat, hal viral yang selalu tersebar di sekolah setiap pagi adalah bacaan. Iya, sebuah bacaan. Salah satunya adalah majalah Bobo yang dulu selalu menjadi perbincangan dan trending di kalangan anak-anak. Siapapun yang berlangganan, pasti banyak anak yang bergerombol ikut membaca bahkan sampai rela meminjam pada salah satu anak yang berlangganan itu. Di setiap kesempatan, kami mencoba untuk membacanya bahkan di waktu pulang sekolah sekalipun. Penulis juga kerap diajak ke perpustakaan sekolah oleh salah seorang teman dan kita membaca buku-buku yang menarik meskipun kebanyakan buku sudah robek dan usang. Jika kita lihat generasi anak muda di era sekarang ini, apakah ada anak-anak yang berlomba-lomba membaca buku secara bersamaan? Tentunya ada, dan penulis yakin tidak sebanyak dahulu. Dan yang lebih menakutkannya lagi, penulis khawatir jika lama-lama tidak ada anak yang tertarik untuk membaca buku dan lebih memilih untuk bermain dengan gadget-nya untuk menonton konten viral. Coba bandingkan, anak-anak zaman dahulu apabila ditanya soal cita-cita, kebanyakan dari mereka pasti menjawabnya ingin bekerja sebagai profesi yang diunggulkan, seperti dokter, guru, polisi, dan lain sebagainya. Jika kita bertanya pada anak-anak zaman sekarang perihal cita-cita, kebanyakan dari mereka pasti menjawab ingin menjadi content creator atau youtuber. Hal ini tentunya tidak salah sama sekali, namun apabila isi konten yang mereka buat nantinya menyesatkan, maka akan menjadi hal yang mengkhawatirkan.
Bagaimana sikap kita dalam menghadapi permasalahan tersebut? Ya, sebenarnya akan lebih mudah jika seluruh masyarakat Indonesia kompak tidak ikut menyebarluaskan konten viral yang sekiranya meresahkan, apalagi isi kontennya tidak ada hal positif sama sekali. Sungguh disayangkan mayoritas orang Indonesia kerap menikmati jenis konten tersebut, yang dimana akan berdampak buruk bagi kita. Jika penulis sendiri mencoba untuk memposisikan diri mengapa kebanyakan orang Indonesia kerap meramaikan hal viral yang bodoh, bisa jadi salah satu alasannya ialah mereka membutuhkan hiburan yang agak nyeleneh di tengah kepenatan hidup yang mereka jalani. Dibandingkan dengan berita prestasi seseorang yang mungkin dapat membuat mereka minder, maka mayoritas orang-orang lebih menikmati konten yang berisikan kebodohan karena disitu terdapat sensasi yang berbeda, seolah memicu rasa tawa, emosi, maupun perasaan lainnya yang bagi mereka itu menghibur. Padahal jika kita mau menggali lebih dalam, sebenarnya banyak konten menghibur yang tidak harus memamerkan kebodohan, contohnya seperti konten lawakan tanpa adanya unsur penghinaan ataupun edukasi yang dikemas lebih ringan dan berwarna. Atau mungkin dapat disuguhi ilustrasi dari setiap konten edukasi tersebut. Jadi, kita sebenarnya tidak kekurangan hiburan, melainkan kita kekurangan akal sehat kita untuk memilah mana konten yang baik dan mana konten yang buruk. Itu saja.
Semoga dengan apa yang penulis jabarkan melalui blog ini mampu membuka pikiran teman-teman untuk sadar bahwa kita ini kekurangan orang cerdas untuk dapat memajukan bangsa ini. Kerja sama dari pemerintah sangatlah dibutuhkan agar dapat selalu membimbing rakyatnya untuk menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Sayang sekali, kinerja pemerintah di era sekarang juga ikut menurun, dan hal ini berdampak pula pada rakyatnya yang minim kemajuan. Sebagai warga negara Indonesia, sudah semestinya kita sadar akan permasalahan yang menimpa generasi zaman sekarang ini. Kita harus bersatu untuk memerangi hal negatif yang merupakan dampak dari globalisasi dan mencoba untuk memotivasi orang-orang agar selalu berbenah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan tidak ikut menyebarkan konten viral yang bodoh, maka dari situ kita turut berkontribusi untuk tidak meramaikannya dengan memberi panggung orang tersebut. Karena pada dasarnya konten bodoh dibuat oleh orang bodoh dan disukai oleh orang bodoh pula.
Tambahan
Konten viral di Indonesia yang tidak sepatutnya diberi perhatian :
1. Mengumbar aib seseorang, seperti podcast yang kerap menggoreng isu pribadi.
2. Memamerkan kekayaan.
3. Mempopulerkan seseorang yang tidak berprestasi dan meresahkan banyak pihak.
4. Orang-orang yang melakukan hal yang nyeleneh dan menyimpang, seperti; prank, membuat gimmick, dll.
5. Mempopulerkan anak-anak di bawah umur karena gaya pacaran mereka.
6. Apapun yang mengandur unsur negatif disana.
Komentar
Posting Komentar